Selasa, 13 April 2010

pre-eklamsia contoh proposal

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kematian maternal didefinisikan sebagai kematian wanita pada masa kehamilan sampai dengan 42 hari sesudah kelahiran, tidak tergantung dari lama dan lokasi kehamilan dan disebabkan oleh apapun yang berhubungan dengan kehamilan atau penanganannya, tetapi tidak secara kebetulan atau oleh penyebab tambahan lainnya.
Menurut WHO tahun 2008 menyatakan bahwa masih tingginya morbiditas dan mortalitas pada ibu hamil dan bersalin merupakan masalah besar di negara berkembang. Di negara miskin sekitar 25-50% kematian usia subur disebabkan oleh hal yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan. Berdasarkan data penelitian world bank atau bank dunia tahun 2008, angka kematian ibu saat melahirkan adalah 420 dari 100.000 ibu yang melahirkan.
Menurut Depkes RI (2007) kondisi derajat kesehatan di Indonesia masih memprihatinkan antara lain ditandai dengan masih tingginya AKI yaitu 228/100.000 kelahiran hidup dan kematian bayi baru lahir 34/1.000 kelahiran hidup (SDKI 2007-2008).
Di Indonesia angka kematian ibu (AKI) adalah 235/100.000 kelahiran hidup, hingga tahun 2009 diharapkan angka kematian ibu mencapai 226/100.000 kelahiran hidup. (Dinkes, Sumsel 2007).
Berdasarkan survei kesehatan rumah tangga (SKRT) tahun 2005, penyebab kematian ibu secara langsung diantaranya perdarahan 30%, eklamsia 25%, Infeksi 12%, Abortus 5%, Emboli Obstetri 3%, Komplikasi masa nifas 16%, Penyebab lain 12%, Sedangkan penyebab tidak langsung lainnya seperti terlambat mengenali tanda bahaya karena tidak mengetahui tanda kehamilan dalam resiko tinggi, terlambat mencapai fasilitas untuk persalinan dan terlambat untuk mendapatkan pelayanan.
Angka kematian ibu di Sumatera Selatan pada tahun 2007 mencapai 62,1% kelahiran hidup, dan pada tahun 2008 menjadi 54,4% kelahiran hidup, baik faktor resiko maupun resiko tinggi dalam kehamilan hendaknya memilki pemantauan yang ketat dan merupakan prioritas dalam pelayanan antenatal care (ANC).
Infeksi nifas menyokong tingginya angka mortalitas dan morbiditas maternal yaitu 38%. Kejadian infeksi nifas di Indonesia memberikan kontribusi 10% Penyebab langsung obstetrik dan 8% dari semua kematian ibu (DepKes RI, 2008).
Sedangkan di SumSel, angka kejadian infeksi nifas tahun 2009 mencapai 43% dari seluruh jumlah ibu postpartum. Diharapkan angka ini dapat menurun hingga 19% pada tahun 2010.
Jumlah ibu nifas di RSUD Palembang BARI tahun 2009 adalah 633 orang. Dalam hal ini jumlah ibu nifas yang mnengalami kejadian infeksi nifas di RSUD Palembang BARI pada tahun 2009 adalah 142 orang (22,42%). Diharapkan angka ini dapat menurun hingga 12% di tahun 2012.

1.2 Rumusan Masalah
Masih tingginya angka kejadian infeksi masa nifas pada ibu (22,42%) yang melakukan kunjungan di RSUD Palembang BARI pada tahun 2009.

1.3 Pertanyaan Penelitian
a. Berapa proporsi ibu yang mengalami infeksi masa nifas di RSUD Palembang BARI pada tahun 2009
b. Apakah ada hubungan antara kejadian infeksi masa nifas dengan penolong persalinan.
c. Apakah ada hubungan antara kejadian infeksi masa nifas dengan pengetahuan ibu.
d. Apakah ada hubungan antara kejadian infeksi masa nifas dengan Jenis persalinan.

1.4 Tujuan Penelitian
1.4.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian infeksi masa nifas pada ibu postpartum di RSUD Palembang BARI tahun 2009.

1.4.2 Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui jumlah proporsi ibu yang mengalami kejadian infeksi masa nifas.
b. Untuk mengetahui hubungan antara penolong persalinan dengan kejadian infeksi masa nifas di RSUD Palembang BARI tahun 2009.
c. Untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan ibu dengan kejadian infeksi masa nifas di RSUD Palembang BARI tahun 2009.
d. Untuk mengetahui hubungan jenis persalinan dengan kejadian infeksi masa nifas di RSUD Palembang BARI tahun 2009.

1.5 Manfaat Penelitian
1.5.1 Bagi Rumah Sakit Umum Daerah Palembang BARI
Motivasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan di masa yang akan datang agar lebih baik.

1.5.2 Bagi Pendidikan Akademi Kebidanan Tunas Harapan Bangsa Palembang
Sebagai tambahan bahan bacaan/literatur bagi mahasiswa Akademi Kebidanan Tunas Harapan Bangsa Palembang.

1.5.3 Bagi Mahasiswi Akademi Kebidanan Tunas Harapan Bangsa Palembang
Membantu dalam menyelesaikan Pendidikan di Akademi Kebidanan Tunas Harapan Bangsa Palembang.

1.6 Ruang Lingkup
Penelitian ini dilakukan di Poli Kebidanan RSUD Palembang BARI pada tanggal 1-12 desember 2009, adapun populasinya ialah semua ibu nifas yang melakukan kunjungan nifas di wilayah kerja RSUD Palembang BARI. Analisa yang digunakan adalah Bivariat, dengan metode penghitungan chi- square.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Persalinan.
A. Definisi persalinan
Persalinan merupakan serangkaian kejadian yang berakhir dengan pengeluaran bayi yang cukup bulan atau hampir cukup bulan, disusul dengan pengeluaran plasenta dan selapu janin secara lengkap dari tubuh ibu. Bila persalinan ini berlangsung dengan kekuatan ibu sendiri dan melalui jalan lahir disebut persalinan spontan. Sebaliknya bila persalilnan dibantu dengan tenaga dari luar misalnya ekstraksi forceps atau dilakukan operasi Sectio Caesarea maka disebut Persalinan buatan. Pada umumnya persalinan terjadi bila bayi sudah cukup besar untuk hidup diluar, tetapi tidak sedemikian besarnya sehingga menimbulkan kesulitan dalam persalinan. Kadang-kadang persalinan tidak mulai dengan sendirinya tetapi baru berlangsung setelah pemecahan ketuban, pemberian pitogin atau prostaglandin. Keadaan ini disebut persalinan anjuran. Beberapa istilah
Gravida : wanita yang sedang hamil. Para : wanita pernah melahirkan bayi yang dapat hidup (viable). In partu : wanita yang sedang berada dalam proses persalinan.

B. Faktor-faktor yang mempengaruhi persalinan.
1. Power
His (kontraksi ritmis otot polos uterus), kekuatan mengejan ibu, keadaan kardiovaskular respirasi metabolik ibu.
2. Passage
Keadaan jalan lahir.
3. Passanger
Keadaan janin (letak, presentasi, ukuran/berat janin, ada/tidak kelainan anatomik mayor) (factor-faktor "P" lainnya : psychology, physician, position). Dengan adanya keseimbangan/kesesuaian antara faktor-faktor "P" tersebut, persalinan normal diharapkan dapat berlangsung.
4. Penolong.
5. Psikis.

2.2 Puerperium Normal.
A. Definisi Puerperium
Puerperium adalah masa sesudah persalinan yang diperlukan untuk pulihnya kembali alat kandungan yang lamanya 6 minggu. Puerperium adalah periode pemulihan dari perubahan anatomis dan fisiologis yang terjadi selama kehamilan.

B. Fisiologis Masa Nifas
1. Involusi Rahim
Setelah placenta lahir uterus merupakan alat yang keras, karena kontraksi dan retraksi otot-ototnya.
• Fundus Uteri : ± 3 jari di bawah pusat
• Berat : 1000 Gram (Post partum)
500 Gram (± 1 minggu Post partum)
50 gram (akhir masa nifas)

Involusi terjadi karena :
- Sel menjadi lebih kecil (cytoplasma) yang berlebihan dibuang
- Autolysis

Dimana zat protein dinding rahim dipecah, diabsorpsi dan kemudian dibuang dengan air kencing ditunjukan dengan ditemukannya kadar nitrogen dalam air kencing yang sangat tinggi.

2. Involusi tempat implantasi placenta.
• Post partum merupakan luka ± sebesar telapak tangan
Setelah persalinan, tempat placenta merupakan tempay dengan permukaan kasar, tidak rata dan kira-kira sebesar telapak tangan.Dengan cepat luka ini mengecil, pada akhir minggu ke-2 hanya sebesar 3-4 cm dan pada akhir nifas 1-2 cm.
• Proses penyembuhan tanpa parut,
Pada permulaan nifas bekas placenta mengandung banyak pembuluh darah besar yang tersumbat oleh thrombus. Biasanya luka yang demikan sembuh dengan cara yang luar biasa ialah dilepaskan dari dasarnya dengan pertumbuhan baru endometrium baru dibawah permukaan luka. Endometrium ini tumbuh dari pinggir luka dan juga dari sisa-sisa kelenjar pada dasar luka.

3. Pembuluh darah rahim.
Dalam kehamilan, uterus mempunyai banyak pembuluh darah yang besar, tetapi karena setelah persalinan tidak diperlukan lagi peredaran darah yang banyak, maka arteri mengecil lagi pada masa nifas.

4. Perubahan pada serviks dan vagina
• Ostium Externum lebih besar
Beberapa hari stelah persalinan, Ostium Externum dapat dilaluioleh 2 jari, pinggir-pinggirnya tidak rata tetapi retak-retak karena robekan dalam persalinan. Pada akhir minggu pertama hanya dapat dilalui oleh 1 jari saja, dan lingkaran retraksi berhubungan dengan bagian atas dari canalis cervicalis.
• Rugae vagina terbentuk lagi ± minggu ke 3 PP.

5. Dinding Perut
Setelah persalinan dinding perut longgar karena diregang sangat lama, tetapi biasanya pulih kembali dalam ± 6 minggu.

6. Traktus Urinarius
• Oedema Trigonum → Retentio urine.
Dinding kandung kencing memperlihatkan oedema dan hyperaemia. Kadang-kadang oedemadari trigonum, menimbulkan obstruksi dari utethra sehingga terjadi retentiop urinae.
• Vesica Urinaria :
- Kurang sensitive
- Kapasitas bertambah
Kandung kencing dalam puerperium kurang sensitiv dan kapasitasnya bertambah sehingga kandung kencing penuh atau sesudah kencing masih tinggal urine residual. Sisa urin dan trauma pada dinding kandung kencing waktu persalinan memudahkan terjadinya infeksi.

7. Laktasi
Keadaan buah dada pada 2 hari pertama nifas sama dengan keadaan dalam kehamilan. Pada waktu ini buah dada belum mengandung susu, melainkan kolostrum yang dapat dikeluarkan dengan memijat oerola mammae.
• Kolostrum adalah cairan berwarna kuning tua seperti jeruk nipis yang disekresi payudara pada awal masa nifas
• Kolostrum lebih banyak mengandung protein dan mineral tapi lebih sedikit mengandung gula dan lemak daripada ASI.
• Cairan kolostrum terdiri dari albumin, yang membeku kalau dipanaskan.
• Kolostrum mengandung euglobulin yang mengandung antibodi sehaingga menambah kekebalan tubuh bayi.

Sebab-sebab laktasi :
• Estrogen dan progesteron dari plasenta merangsang pertumbuhan kelenjar-kelenjar susu, sedangkan progesteron merangsang pertumbuhan saluran kelenjar. Kedua hormon ini menghambat LTH (Prolactin). Setelah plasenta lahir, maka LTH dengan bebas merangsang laktasi.
• Lobus posterior hypohyse mengeluarkan oxytocin yang merangsang pengeluaran air susu. Pengeluaran air susu adalah refleks yang ditimbulkan oleh rangsangan penghisapan putting susu oleh bayi. Rangsangan ini menuju ke hypohyse dan menghasilkan oxytocin yang menyebabkkan buah dada mengeluarkan air susunya.

8. Hari ke 3 post partum
Mammae besar, keras,nyeri. Ini menandai permulaan sekresi air susu.
• Kondisi – kondisi ibu dilarang menyusui anaknya:
• Mastitis purulenta
• Penyakit menular
• Keadaan umum ibu kurang baik
• Bayi prematur/ sakit keras

9. His pengiring (royan)
• Kontraksi & relaksasi rahim
• Umum multipara

10. Lochia
• Cairan yang keluar dari vagina pada awal masa nifas.
• Merupakan sekret luka, yang berasal dari luka dalam rahim terutama luka placenta.
• Lochia
• Rubra (berupa darah) : 3-4 hari
• Serosa (darah encer) : Sampai hari ke 10
• Alba (cairan putih) : Setelah hari ke10 ± sampai 2-4 mg

C. Penatalaksanaan puerperium
1. Kala IV : 1 jam pertama post partum. Pemeriksaan placenta supaya tidak ada bagian-bagian placenta yang tertinggal.
a. Pengawasan tingginya fundus uteri
b. Pengawasan perdarahan dari vagina
c. Pengawasan konsistensi rahim
d. Pengawasan keadaan umum ibu

2. Early Ambulation
Early Ambulation adalah kebijaksanaan untuk selekas mungkin membimbing pasien keluar dari tempat tidurnya dan membimbing selekas mungkin berjalan.
3. Diet
Diet harus sangat mendapat perhatian dalam masa nifas karena makanan yang baik mempercepat penyembuhan ibu, Selain itu makanan ibu sangat mempengaruhi susunan air susu.
4. Suhu
Harus diawasi terutama dalam minggu pertama dari masa nifas karena kenaikan suhu adalah tanda pertama infeksi.
5. Miksi
Pasien dianjurkan untuk buang air kencing 6 jam postpartum.
6. Defekasi
Jika pasien hari ketiga belum juga buang air besar, mak diberi clysma air sabun atau glycerine.
7. Puting susu
Puting susu harus diperhatikan kebersihannya dan rhagde (luka pecah) harus segera diobati karena kerusakan putting susu dapat menyebabkan mastitis.
8. Haid
Bagi ibu yang tidak menyusui anaknya, maka haid akan datang lebih cepat dari pada ibu yan menyusukan anaknya. Ibu yang tidak menyusukan anaknya biasanya haid datang 8 minggu postpartum, sedangakan ibu yang menyusui anaknya biasanya haid datang pada bulan ke-4 postpartum.
9. Keluarga Berencana (KB)
Masa postpartum merupakan saat yang paling baik untuk menawarkan kontrasepsi karena pada masa ini pasangan suami istri mempunyai motivasi tinggi untuk menunda kehamilan. Pil dapat mempengaruhi sekresi air susu, biasanya ditawarkan IUD, injeksi atau sterilisasi.

2.3 Infeksi nifas.
A. Definisi
Infeksi masa nifas dalah semua peradangan yang disebabkan oleh masuknya kuman-kuman ke dalam alat–alat genital pada waktu persalinan dan nifas. Demam nifas atau morbiditas puerperalis meliputi demam dalam masa nifas oleh sebab apapun. Menurut Joint Committee on Maternal Welfare, morbiditas puerperalis ialah kenaikan suhu sampai 380 C atau lebih selama 2 hari dalam 10 hari pertama postpartum, dengan mengecualikan hari pertama.

B. Etiologi
Infeksi nifas umumnya disebabkan oleh bakteri yang dalam keadaan normal berada dalam usus dan jalan lahir. Gorback mendapatkan dari 70 % biakan serviks normal dapat pula ditemukan bakteri anaerob dan aerob patogen. Kuman anerob adalah kokus gram positif (Peptostreptokokus, Peptokokus, Bakteroides dan Clostridium). Kuman aerob adalah bermacam gram positif dan E.coli. Selain itu, infeksi nifas dapat pula disebabkan oleh :
1. Streptococus haemolyticus aerobicus, ini merupakan penyebab infeksi yang berat, khususnya golongan A. Infeksi ini biasanya eksogen (dari penderita lain, alat atau kain yang tidak steril, infeksi tenggorokan orang lain).
2. Staphylococus aureus, kuman ini biasanya menyebabkan infeksi terbatas, walaupun kadang – kadang menjadi sebab infeksi umum. Banyak ditemukan di rumah sakit.
3. Escherichia coli, Kuman ini umumnya berasal dari kandung kencing atau rektum dan dapat menyebabkan infeksi terbatas pada perineum, vulva, dan endometrium. Kuman ini merupakan sebab dari infeksi traktus urinarius.
4. Clostridium welchii, infeksi kuman yang bersifat anerobik jarang ditemukan tetapi sangat berbahaya. Infeksi lebih sering terjadi pada abortus kriminalis.

C. Sumber Terjadinya Infeksi Masa Nifas
1. Tangan pemeriksa atau penolong yang tertutup sarung tangan pada pemeriksaan dalam atau operasi membawa bakteri yang sudah ada dalam vagina dalam uterus. Kemungkinan lain ialah bahwa sarung tangan atau alt – alt yang dimasukkan ke dalam jalan lahir tidak sepenuhnya bebas dari kuman – kuman.

2. Droplet infection.
Sarung tangan atau alat – alat terkena kontaminasi bakteri yang berasal dari hidung atau tenggorokan penolong.
3. Dalam rumah sakit selalu banyak kuman-kuman pathogen, berasal dari penderita-penderita dengan berbagai jenis infeksi. Kuman-kuman ini bisa dibawa aliran udara kemana-mana.
4. Coitus pada akhir kehamilan tidak merupakan sebab infeksi penting, kecuali apabila mengakibatkan pecahnya ketuban.
5. Infeksi intrapartum sudah dapat memperlihatkan gejala-gejala pada waktu berlangsungnya persalinan. Infeksi intrapartum biasanya terjadi pada partus lama, apalagi jika ketuban sudah lama pecah dan beberapa kali dilakukan pemeriksaan dalam. Gejala-gejala ialah kenaikan suhu, biasanya disertai dengan leukositosis dan takikardia; denyut jantung janin dapat meningkat pula. Air ketuban biasa menjadi keruh dan bau.

D. Golongan Infeksi Nifas
Dapat dibagi dalam 2 golongan : yaitu (1) infeksi yang terbatas pada perineum, vulva, vagina, serviks, dan endometrium ; dan (2) penyebaran dari tempat-tempat tersebut melalui vena-vena, melalui jalan limfe, dan melalui permukaan endometrium.
1. Infeksi pada perineum, vulva, vagina, seviks, dan endometrium
- Vulvitis
Pada infeksi bekas sayatan episiotomi atau luka perineum jaringan sekitarnya membengkak, tepi luka menjadi merah dan bengkak ; jahitan ini mudah terlepas dan luka yang terbuka menjadi ulkus dan mangaluarkan pus.
- Vaginitis
Infeksi vagina dapat terjadi secara langsung pada luka vagina atau melalui perineum. Permukaan mukosa membengkak dan kemerahan, terjadi ulkus, dan getah mengandung nanah yang keluar dari daerah ulkus. Penyebaran dapat terjadi, tetapi pada umumnya infeksi tinggal terbatas.
- Servisitis
Infeksi sering juga terjadi, akan tetapi biasanya tidak menimbulkan banyak gejala. Luka serviks yang dalam dan meluas dan langsung kedasar ligamentum latum dapat menyebabkan infeksi yang menjalar ke parametrium.
- Endometritis
Jenis infeksi yang paling sering ialah endometritis. Kuman-kuman memasuki endometrium, biasanya pada luka bekas Insersio plasenta, dan dalam waktu singkat mengikutsertakan seluruh endometrium

2. Penyebaran melalui pembuluh-pembuluh darah.
a. Septikemia dan piemia
Ini merupakan infeksi umum yang disebabkan oleh kuman-kuman yang sangat pathogen biasanya Streptococcus haemolyticus golongan A. Infeksi ini sangat berbahaya dan merupakan 50% dari semua kematian karena infeksi nifas.
Pada septicemia kuman-kuman dari sarangnya di uterus, langsung masuk keperedaran darah umum dan menyebabkan infeksi umum. Adanya septicemia dapat dibuktikan dengan jalan pembiakan kuman-kuman dari darah. Pada piemia terdapat dahulu tromboflebitis pada vena-vena diuterus serta sinus-sinus pada bekas tempat plasenta. Tromboflebitis ini menjalar ke vena uterine, vena hipogastrika, dan/atau vena ovarii (tromboflebitis pelvika). Dari tempat-tempat thrombus itu embolus kecil yang mengandung kuman-kuman dilepaskan. Tiap kali dilepaskan, embolus masuk keperedaran darah umum dan dibawa oleh aliran darah ketempat-tempat lain, antaranya ke paru-paru, ginjal, otak, jantung, dan sebagainya, dan mengakibatkan terjadinya abses-abses ditempat-tempat tersebut. Keadaan ini dinamakan piemia.
Penyebaran melalui jalan limfe dan jalan lain
- Peritonitis
Infeksi nifas dapat menyebar melalui pembuluh limfe didalam uterus langsung mencapai peritoneum dan menyebabkan peritonitis, atau melalui jaringan diantara kedua lembar ligamentum latum yang menyebabkan parametritis ( sellulitis pelvika).

- Parametritis (sellulitis pelvika)
Peritonitis dapat pula terjadi melalui salpingo-ooforitis atau sellulitis pelvika. Infeksi jaringan ikat pelvis dapat terjadi melalui tiga jalan yakni :
• Penyebaran melalui limfe dari luka serviks yang terinfeksi atau dari endometritis.
• Penyebaran langsung dari luka pada serviks yang meluas sampai kedasar ligamentum.
• Penyebaran sekunder dari tromboflebitis pelvika.
Penyebaran melalui permukaan endometrium, Salpingitis, ooforitis. Kadang-kadang walaupun jarang, infeksi yang menjalar ketuba Fallopii, malahan ke ovarium.
2.4 Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian infeksi nifas.
A. Penolong persalinan
Penolong persalinan yaitu bidan memiliki peranan penting dalam meningkatkan derajat kesehatan ibu dalam masa pascapersalinan atau masa nifas.
B. Pengetahuan ibu
Latar belakang pengetahuan ibu sangat mempengaruhi kebiasaan dan perilaku ibu, termasuk perilaku ibu semasa hamil, bersalin dan nifas.
C. Jenis persalinan
Jenis persalinan yang dialami ibu juga memiliki pengaruh yang besar terhadap kejadian infeksi masa nifas.

BAB III
KERANGKA KONSEPTUAL, DEFINISI OPERASIONAL
DAN HIPOTESIS

3.1 Kerangka Konseptual
Kerangka konsep penelitian pada dasarnya adalah kerangka hubungan antara konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian yang akan dilakukan (Notoatmodjo, 2002).
Beberapa faktor yang mempengaruhi Kejadian infeksi masa nifas adalah tenaga kesehatan, pengetahuan ibu dan Proses persalinan (Briawan, 2005). Kerangka konsep penelitian tersebut dapat dilihat di bawah ini :

Skema kerangka konsep penelitian :
Variabel Independen Variabel Dependen










3.2 Definisi Operasional
A. Variabel Dependen
Infeksi nifas
Pengertian : Ibu yang mengalami infeksi nifas yang ditandai dengan suhu
tubuh >380c
Cara Ukur : Pemeriksaan suhu badan
Alat Ukur : Termometer
Hasil Ukur : Ya, Infeksi nifas
Tidak, Tidak infeksi
(Prawirohardjo, 2005)
Skala ukur : Ordinal

B. Variabel Independen
Penolong persalinan
Pengertian : Bidan yang menolong persalinan sesuai dengan SOP
Cara Ukur : Observasi
Alat Ukur : Angket observasi dan chek list
Hasil Ukur : Baik, apabila melakukan sesuai dengan prosedur.
Tidak, apabila melakukan tidak sesuai dengan prosedur.
Skala Ukur : Ordinal

Pengetahuan ibu
Pengertian : Pengetahuan ibu mengenai kehamilan, persalinan dan nifas.
Cara Ukur : Wawancara
Alat Ukur : Kuesioner
Hasil Ukur : Tahu
Tidak tahu
Skala ukur : Ordinal

Jenis persalinan
Pengertian : Tindakan yang dilakukan selama menjalani persalinan yaitu kala I sampai dengan kala IV.
Cara Ukur : Wawancara
Alat Ukur : Kuesioner
Hasil Ukur : Normal
Tidak Normal
Skala Ukur : Ordinal

3.3 Hipotesis
1. Ada hubungan antara Penolong Persalinan dengan kejadian infeksi masa nifas di RSUD Palembang BARI tahun 2009.
2. Ada hubungan antara Pengetahuan ibu dengan kejadian infeksi masa nifas di RSUD Palembang BARI tahun 2009.
3. Ada hubungan antara Proses persalinan dengan kejadian infeksi masa nifas di
RSUD Palembang BARI tahun 2009.



BAB IV
METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode Survey Analitik dengan pendekatan “Cross Sectional” yaitu suatu penelitian yang berusaha mengukur atau mengumpulkan variabel sebab atau resiko (Independen) dan variabel akibat atau kasus (Dependen) secara simultan dikumpulkan dalam waktu yang bersamaan (Notoatmodjo, 2002).
Di mana pada pengumpulan data, variabel independen adalah tenaga kesehatan, pengetahuan ibu dan proses persalinan, dengan variabel dependen yaitu Kejadian Infeksi Masa Nifas.

B. Populasi Penelitian
Populasi dalam penelitian adalah setiap subjek (misalnya manusia; klien) yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan (Nursalam, 2008:89).
Dalam penelitian ini, populasinya adalah ibu-ibu yang melakukan kunjungan nifas di RSUD Palembang BARI. Populasi pada penelitian ini berjumlah 60 responden.

C. Sampel Penelitian
Sampel penelitian merupakan bagian populasi terjangkau yang dapat dipergunakan sebagai subjek penelitian melalui Sampling (proses menyeleksi porsi dari populasi yang dapat mewakili populasi yang ada) (Nursalam, 2008:91).
Pengambilan sampel dilakukan secara Non-random dengan teknik “Accidental Sampling” yaitu pengambilan sampel atau responden dengan mengambil kasus atau responden yang kebetulan ada atau tersedia (Notoatmodjo, 2002), dalam penelitian ini sampelnya adalah ibu-ibu yang melakukan kunjungan nifas di RSUD Palembang BARI untuk melakukan pemeriksaan masa nifas. Populasi pada penelitian ini berjumlah 60 responden.

D. Lokasi dan Waktu Penelitian
1. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini dilaksanakan di Poli Kebidanan RSUD Palembang BARI.
2. Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada tanggal 01- 12 Desember 2009.

E. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data
1. Teknik Pengumpulan Data
a) Data Primer
Data identitas responden diperoleh dari wawancara dengan menggunakan daftar pertanyaan berupa kuesioner, diambil untuk variabel independen dan dependen.


b) Data Sekunder
Data sekunder diperoleh dari RSUD Palembang BARI, dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan tahun 2008 dan dari Dinas Kesehatan Kota Palembang tahun 2008.

2. Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen yang digunakan adalah kuesioner sebagai pedoman, dengan teknik wawancara yang diisi oleh peneliti sendiri.

F. Teknik Pengolahan Data
Menurut Hastono (2001:1-2), teknik-teknik pengolahan data adalah sebagai berikut :
1. Editing (Pengolahan Data)
Merupakan kegiatan untuk melakukan pemeriksaan isian kuesioner, apakah jawaban responden sudah lengkap, jelas, relevan dan konsisten.
2. Coding (Pengkodean Data)
Kegiatan mengubah data yang berbentuk huruf menjadi data yang berbentuk angka/bilangan. Kegunaannya adalah untuk mempermudah pada saat analisa data dan juga mempercepat pada saat memasukkan data.
3. Processing (Pemprosesan Data)
Data-data yang sudah di coding dan di editing, selanjutnya adalah memproses data agar dapat dianalisis.Pemprosesan data dengan dimasukkan ke tabulasi.

4. Cleanning (Pembersihan Data)
Merupakan pengecekan kembali data yang sudah dimasukkan, apakah ada kesalahan atau tidak.

G. Teknik Analisis Data
1. Analisis Univariat
Analisis Univariat dilakukan terhadap tiap variabel dari hasil penelitian, pada umumnya dalam analisis ini hanya menghasilkan distribusi dan persentase dari variabel (Notoatmodjo, 2005). Pada penelitian ini, analisis univariat dilakukan pada variabel penolong persalinan, pengetahuan ibu dan jenis persalinan dengan kejadian infeksi pada masa nifas, yang dianalisis dengan menggunakan tabel distribusi frekuensi.
2. Analisis Bivariat
Analisis Bivariat dilakukan terhadap dua variabel yang diduga berhubungan atau berkolerasi (Notoatmodjo, 2005). Pada penelitian ini, analisis bivariat dilakukan antara variabel independen yaitu penolong persalinan, pengetahuan ibu dan jenis persalinan dengan variabel dependen yaitu kejadian infeksi masa nifas.
Analisis bivariat ini dilakukan secara komputerisasi dengan menggunakan uji statistik Chi Square, dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Jika p.value ≤ 0,05, berarti ada hubungan bermakna dan bila p.value > 0,05 berarti tidak ada hubungan bermakna antara variabel dependen dan independen (Budiarto, 2002).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar