Senin, 12 April 2010

PKL kebidanan komunitas Akbid THB plg BAB I,II,III

LAPORAN KEGIATAN
PRAKTEK KERJA LAPANGAN ( PKL )
ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS DALAM RANGKA PENGEMBANGAN DESA SIAGA DI DUSUN KRAGILAN, DESA BIMOMARTANI KECAMATAN NGEMPLAK KABUPATEN SLEMAN PROPINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Tanggal 17 s/d 30 Desember 2009


Disusun Oleh :
Kelompok XII

1. EMA RIATI 01.07.003
2. HESVA SEPTORA LEZA 01.07.004
3. JULITA ARYANI 01.07.007
4. MAYA PUSVITA SARI 01.07.008
5. NITA EKA WATI 01.07.011
6. NYAYU AMRINA ROSYADA 01.07.012
7. RETNO KURNIAWATY 01.07.014
8. RIA ANGELINA 01.07.015
9. VITRI YANI SASMITA 01.07.018
10. YULI DARLINA 01.07.019
11. SANTI RAHAYU 01.07.021

PEMERINTAHAN PROPINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
DINAS KESEHATAN ( DINKES )
BALAI PELATIHAN KESEHATAN ( BAPELKES ) YOGJAKARTA
Jl. Raya solo Km. 12,8 Fax. (0274) 497253, Ph. (0274) 496192
Kalasan, Seleman, Yogyakarta
E-mail: Bapelkes@dinkes.jogja.prov.go.id
55571
HALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN KEGIATAN
PRAKTEK KERJA LAPANGAN ( PKL)
ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS DALAM RANGKA PENGEMBANGAN DESA SIAGA DI DUSUN KRAGILAN, DESA BIMOMARTANI KECAMATAN NGEMPLAK KABUPATEN SLEMAN
PROPINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

DIAJUKAN OLEH :
KELOMPOK XII

TELAH DISETUJUI & DISAHKAN OLEH :


KEPALA DUSUN PEMBIMBING PUSKESMAS



(Suharyono) (Cahyaningtyas, A.Md)


PEMBIMBING DOSEN PEMBIMBING BAPELKES



(Rini Gustina Sari, AM.Keb) Drg. Retno Lukitowati, Mpd)




KATA PENGANTAR
PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan Praktek kerja lapangan (PKL) Di dusun Kragilan, Desa Bimomartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman pada tanggal 17 s/d 30 Desember 2009 dan dapat menyelesaikan laporan hasil PKL ini.
PKL ini merupakan penerapan dalam ilmu kebidanan komunitas, dan merupakan salah satu persyaratan dalam program belajar mengajar D-III kebidanan. Dalam penulisan laporan hasil PKL ini, kami merasa masih banyak kekurangan dikarenakan sumber data yang tidak lengkap, waktu yang singkat, dan kurangnya pemahaman bahasa serta keterbatasan kami sebagai mahasiswi, maka dari itu kami mengharapkan kritik dan saran bersifat edukatif dan membangun dari semua pihak guna perbaikan dan sempurnanya laporan hasil PKL ini di masa yang akan datang.
Atas selesainya laporan hasil PKL ini, kami sangat berterima kasih atas bimbingan, saran dan nasehat serta fasilitas yang telah disediakan untuk kami agar dapat mengembangkan diri demi institusi dan profesi, maka pada kesempatan ini perkenankanlah kami mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada:

1. Ibu Hj. Amenda Paswida Sebayang, SKM., SST, M.Kes, Selaku Direktur Akademi Kebidanan Tunas Harapan Bangsa Palembang.
2. Ibu Rini Gustina Sari AM.Keb Selaku Pembimbing Akademik yang senantiasa mendampingi serta memberikan dukungan.
3. Bapak Dr. Joko Santoso, M.Kes, Selaku Kepala Bapelkes Yogyakarta.
4. Bapak Amin Subargus, SKM., M.Kes, Selaku ketua Panitia PKL
5. Bapak Ir. Supriyanto, Selaku Kepala Desa Bimomartani.
6. Ibu Drg. Retno Lukitowati, Mpd, Selaku Pembimbing dari Bapelkes Yogyakarta yang senantiasa membimbing kami selama di Dusun Kragilan.
7. Bapak Sumaryo, Selaku Pembimbing dari Bapelkes Yogyakarta yang senantiasa membantu kami selama di Dusun Kragilan.
8. Ibu Cahyaningtyas, A.Md Selaku Pembimbing dari Puskesmas Ngemplak I yang senantiasa membimbing kami selama di Dusun Kragilan.
9. Bapak Suharyono, Selaku Kepala Dusun Kragilan.
10. Semua pihak yang telah membantu menyelesaikan laporan PKL yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu.

Semoga Allah memberikan balasan berlipat ganda kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan laporan PKL. Akhir kata kami ucapkan terima kasih.





Yogyakarta, Desember 2009




Kelompok XII









DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
LEMBAR PENGESAHAN i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iv
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 1
B. Tujuan 3
C. Manfaat PKL 5
D. Sasaran 7
E. Ruang Lingkup Penelitian 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Desa Siaga 10
1. Pengertian dan Tujuan Desa Siaga 10
2. Sasaran Pengembangan dan Kriteria Desa Siaga 10
3. Langkah-langkah Pengembangan Desa Siaga 12
B. Konsep Penggerakkan Dan Pemberdayaan Masyarakat 13
1. Pengertian Penggerakkan Dan Pemberdayaan Masyarakat 13
2. Tujuan Penggerakkan Dan Pemberdayaan Masyarakat 14
3. Prinsip-prinsip Penggerakkan Dan Pemberdayaan Masyarakat 14
4. Ciri-ciri Penggerakkan Dan Pemberdayaan Masyarakat 15
5. Strategi Penggerakkan Dan Pemberdayaan Masyarakat 15
6. Pokok-pokok Kegiatan Penggerakkan Dan Pemberdayaan Masyarakat 16
7. Langkah-langkah Penggerakkan Dan Pemberdayaan Masyarakat 16
C. Konsep Penyakit 17
1. ISPA Pada Ballita 17
2. DIARE 19
BAB III METODELOGI PKL
A. Jenis dan Rangcangan Penelitian 31
B. Populasi Penelitian 31
C. Sample Penelitian 31
D. Lokasi Penelitian 32
E. Cara Pengumpulan Data 32
F. Instrumen Pengumpulan Data 32
G. Analisa Data 33
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Data Umum (Sekunder) 34
1. Data Geografi 34
2. Data Demografi 34
3. Data Sumber Daya Masyarakat 38
B. Data Khusus (Primer) 39
1. Identitas Responden 39
2. Data Status Kesehatan Keluarga/Masyarakat 43
3. Tingkat Pengetahuan 45
4. Tingkat Praktek/Pelaksanaan 51
5. Ringkasan Data Senjang 58
6. Rumusan Masalah Kesehatan 59
7. Prioritaas Masalah Kesehatan 59
8. Rencana Intervensi 60
9. Faktor Penghambat dan Pendukung 60
10. Evaluasi Program Kegiatan 61
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan 62
B. Saran 63
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN




BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Proses belajar mengajar pada program jenjang D-III kebidanan, dimaksudkan agar kelak lulusannya menjadi bidan yang bermutu, profesional dan mandiri baik di Institusi pelayanan kesehatan mampu praktek mandiri sesuai dengan kompetensi yang terdapat pada kurikulum berbasis kompetensi (KBK) Program pendidikan D-III tahun 2006. Salah satu mata kuliah yang harus ditempuh oleh bidan ini adalah mata kuliah kebidanan komunitas dengan beban 3 SKS yang ditempatkan di semester V dimana kompetensinya adalah 1 SKS teori dan 2 SKS praktek lapangan. Program pembelajaran kebidanan komunitas didapatkan melalui strategi pengalaman belajar cermat (pbc), pengalaman belajar diskusi (pbd), program belajar seminar (pbs), pengalaman belajar praktek (pbk) ataupun pengalaman belajar lapangan (pbl), yang dapat dilaksanakan di kelas, klinik dan komunitas/masyarakat langsung. Khusus untuk kegiatan pengalaman belajar praktek lapangan (pbl), yang merupakan metode proses pembelajaran dilakukan dengan menerapkan semua ilmu yang telah diperoleh di kelas (studi komprehensif) ke dalam suatu tatanan nyata di masyarakat, di mana masalah kesehatan yang akan dipenuhi lebih kompleks untuk dilakukan pemecahan masalah. Dalam rangka mewujudkan visi Indonesia Sehat telah disepakati perlunya perubahan paradigma pembangunan kesehatan, yaitu dari paradigma sakit ke paradigma sehat. Paradigma sehat adalah kemampuan dan kemauan masyarakat untuk hidup sehat secara mandiri, malalui hidup bersih dan sehat (PHBS) di berbagai tatanan. Salah satu tatanan dalam pelaksanaan PHBS adalah tatanan Rumah tangga (RT) sebagai unit terkecil dalam komunitas. Pelaksanaan PHBS pada tatanan rumah tangga adalah adanya indikator yang menunjukan keluarga tersebut sudah melakukan upaya program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan Keluarga Berencana (KB). Indikator perilaku yang berkaitan dengan KIA/KB ini menjadi sangat penting karena merupakan salah satu indikator sensitif (spesifik) keberhasilan pembangunan kesehatan. Selain itu dalam mewujudkan “Masyarakat Sehat”, Depkes telah meluncurkan program desa siaga dengan salah sau kegiatan pelayanannya adalah Pos Kesehatan Desa dimana Bidan menjadi penanggungjawab atau Koordinator unit pelayanan berbasis sumber daya masyarakat tersebut.
Oleh karena itu calon bidan harus memiliki pengalaman langsung dalam mengelola Pos Kesehatan Desa, menggerakkan dan memberdayakan masyarakat dalam program Desa Siaga.
Bapelkes Jogja sebagai unit pelaksana teknik Dinas Kesehatan Provinsi D.I.Y merupakan Institusi Diklat Kesehatan, yang mempunyai tugas pokok dan fungsi untuk meningkatkan kapasitas calon tenaga kesehatan dan masyarakat (kader kesehatan, mahasiswa kesehatan dan masyarakat umum) melalui berbagai bentuk pendidikan pelatihan yang lebih berorientasi untuk menunjang program-program kesehatan yang dicanangkan Dinkes Provinsi D.I.Y dan Depkes Pusat. Salah satu upaya Bapelkes Jogja untuk turut menyiapkan SDM Kesehatan yang Profesional dan ahli di bidangnya adalah dengan menyediakan sarana prasarana untuk pembelajaran tenaga kesehatan dan masyarakat, termasuk mahasiswa kesehatan dalam bentuk praktek belajar lapangan (baik dalam bentuk pbl, pkl maupun pkn) di laboratorium, kelas dan lapangan. Bapelkes Jogja, sebagai bentuk pelaksanaan tugas pokok tersebut, Bapelkes Jogja bekerja sama dengan berbagai perguruan tinggi kesehatan jenjang S-I maupun D-III dan IV kesehatan dapat memfasilitasi menyelenggarakan kegiatan pembelajaran dalam bentuk Praktek Kerja Lapangan (PKL) manajemen kebidanan komunitas. Salah satu tujuan dari manajemen kebidanan komunitas adalah pengolahan asuhan kebidanan bagi masyarakat dan keluarga dengan tujuan, sasaran target, pelakasanaan dan evaluasi di lingkungan masyarakat.

Strategi pendekatan pelaksanaan yang digunakan dalam praktek manajemen kebidanan komunitas adalah berorientasi pada program kerja puskesmas, yaitu program PHBS, Operasionalisasi Desa Siaga dan Primary Health Care (PHC), yaitu lebih memfokuskan pada upaya membangkitkan peran serta masyarakat, penyadaran akan pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat, peningkatan pengetahuan masyarakat dalam hal kesehatan, sehingga masyarakat mampu mengenal masalah kesehatannya sendiri. Sehingga memberi kontribusi bagi pencapaian Indonesia Sehat di tingkat keluarga dan masyarakat.

B. Tujuan
Tujuan Umum
Setelah mengikuti PKL diharapkan mahasiswa mampu mengidentifikasi, merencanakan, memprioritaskan, mengiplementasikan, mengevaluasi dan memonitoring managemen pelayanan kebidanan komunitas dengan tekhnik penggerakan dan pemberdayaan masyarakat serta pendekatan edukatif pada individu, keluarga, kelompok khusus ataupun pada komunitas tertentu dalam rangka mewujudkan tercapainya Indonesia sehat.

Tujuan Khusus
Selama praktek lapangan, mahasiswa mampu ;
1. Melakukan pengenalan, orientasi dan sosialisasi pada masyarakat (Musyawarah Masyarakat Desa (MMD) atau pertemuan 1)
2. Melakukan pengkajian data dan mengidentifikasi isu-isu permasalahan kesehatan dan kebidanan komunitas terkini melalui Windshield Survey, Survai Mawas Diri (SMD), Observasi dan indepth Interview
3. Melakukan pengolahan dan analisis data sebagai dasar untuk mendiagnosis kebidanan komunitas dengan menggunakan pendekatan dan prespektif gender, metode analisis sosial, demografi, epidemiologi, dan statistik kesehatan
4. Melakukan teknik prioritas masalah kebidanan komunitas deengan menggunakan teknik skoring, USG, Fishbone Diagram, pohon masalah atau lainnya.
5. Merencanakan intervensi asuhan kebidanan komunitas dan pembentukan forum komunikasi dusun siaga dalam desa siaga bersama masyarakat melalui forum rembuk desa (MMD/pertemuan II).
6. Pembuatan strategi pelayanan yang berkaitan dengan kebidanan komunitas dan desa siaga secara berkesinambungan, benar dan tepat bersama sasaran dengan pendekatan PRA (Partisipatoring Rural Appraisal)
7. Melaksanakan pelayanan kebidanan komunitas, sesuai dengan program kegiatan desa siaga pada keluarga dengan prioritas pada keluarga miskin, terasing dan atau daerah korban bencana, melalui pelayanan institusi Pos Kesehatan Desa (Poskesdes):
a. Melakukan sosialisasi program desa siaga dan pelayanan Poskesdes
b. Melakukan pelatihan kader dan toma dalam pengembangan desa siaga dan Poskesdes
c. Menggerakkan masyarakat untuk membentuk organisasi masyarakat dalam rangka pembentukan dusun siaga, misalnya dalam bentuk forum kesehatan masyarakat dusun, panitia pembentukan dusun siaga, dan lainnya
d. Memberikan asuhan kebidanan pada ibu hamil, ibu bersalin, postpartum dan perawatan bayi baru lahir di Poskesdes
e. Memberikan pendidikan kesehatan (promosi kesehatan) kepada ibu, remaja, anak usia sekolah, dan lansia tentang kesehatan reproduksi
f. Membantu memberikan pelayanan keluarga berencana
g. Membantu memberikan pelayanan imunisasi pada sasaran
h. Pengawasan tumbuh kembang bayi, anak dan balita (DTKB) di Play Group atau PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini)
i. Membantu memberikan asuhan kebidanan pada balita sakit melalui MTBS
j. Melakukan pelayanan bina keluarga bermasalah kesehatan.
k. Memberikan pelayanan “fellow up care” kebidanan ibu post partum di unit pelayanan kesehatan.
l. Memberikan pelatihan SADARI, senam hamil, senam nifas an pijat bayi.
m. Memberikan pendidikan kesehatan dan promosi kesehatan tentang kesehatan reproduksi bagi remaja, anak remaja, lansia dan lain-lain.
8. Melaksanakan pemantauan kesehatan Ibu dan Anak dengan Intrumen PWS-KIA.
9. Melakukan evaluasi pelayanan manajemen kebidanan komunitas.
10. Menyusun laporan pertanggung jawaban kegiatan pelayanan kebidanan pada komunitas.

C. Manfaat PKL
1. Bagi Peserta
a. Memperoleh pengalaman nyata dalam kehidupan bermasyarakat khusunya dalam pengembangan Desa Siaga dan penggerakkan masyarakat untuk mengetasi permasalahan kesehatannya sendiri dikaitkan dengan pelayanan manajemen kebidanan komunitas.
b. Mampu mengenal budaya, bahasa dan adat kebiasaan masyarakat D.I.Y sehari-hari.
c. Balajar sambil berwisata di wilayah D.I.Y
d. Memperoleh kenangan yang tak terlupakan dan menjadi media pendewasaan karakteristik dan budi pekerti mahasiswa sebagai bekal bekerja.


2. Bagi Institusi Pendidikan
a. Bagi dosen pengelola program kebidanan komunitas, diharapkan mampu memperoleh gambaran bagaimana cara penyelenggaraan dan pengelolaan managemen kebidanan komunitas.
b. Dilihat dari outputnya : menjadikan lulusannya menjadi pengalaman dan wawasan yang lebih komperhensif, holistik dan adaptif terhadap situasi dan kondisi yang berbeda dari tempat asalnya.
c. Dilihat dari reputasinya : maka institusi yang mengadakan PKL kebidanan komunitas di Bapelkes Jogja akan menjadi lebih diakui eksitensinya dan “brand image”nya menjadi lebih baik, sebagai lembaga pendidikan kesehatan yang peduli terhadap peningkatan mutu kesehatannya, khususnya dilingkungan badan PPSDM Depkes, yaitu Pusdiknakes dan atau Pusdiklat SDM Kesehatan Depkes RI serta institusi pendidikan kesehatan lain dan masyarakat, karena Bapelkes jogja berada di bawah pembinaan lembaga tersebut dan merupakan Institusi Diklat Resmi yang terakreditasi dan telah memiliki sertfikat penerapan sistim manajemen mutu ISO 9001:2000 pada tanggal 18 februari 2008.

3. Bapelkes Jogja
a. Sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan/organisasi (corporate social resposability/CSR) Bapelkes Jogja pada masyarakat jogja pada umumnya dan masyarakat kabupaten Sleman pada khususnya.
b. Melaksanakan sebagian tugas pokok dan fungsinya dalam mempersiapkan kapasitas dan kemampuan calon tenaga kesehatan, tenaga kesehatan dan masyarakat, agar lebih bermutu dan profesional.
c. Dapat meningkatkan jalinan partnership dan networking dengan berbagai organisasi dan institusi pendidikan kesehatan.

4. Desa Kragilan
Meningkatkan pengetahuan dan perilaku masyarakat di Desa Bimomartani pada umumnya dan Dusun Kragilan khususnya, dalam bidang peningkatan perilaku hidup sehat dan bersih, membantu masyarakat dalam mendapatkan data status kesehatan serta data umum lainnya untuk kepentingan tingkat Desa atau Dusun.

D. Sasaran
Sasaran kegiatan PKL ini adalah individu, keluarga, kelompok khusus (bumil, buteki, balita, bayi, remaja, lansia, anak sekolah) dan masyarakat perdukuhan diwilayah Kebupaten/Kota se-Provinsi D.I.Y, yang memiliki karakteristik :
a. D.I.Y merupakan wilayah dengan indikator derajat kesehatan masyarakat yang paling baik dibandingkan dengan daerah lain, khususnya terkait dengan indikator kesehatan ibu, bayi, balita dan anak serta umur harapan hidupnya tertinggi di Indonesia, sehingga dapat menjadi media pembelajaran lapangan yang baik (kampus alamiah).
b. D.I.Y merupakan daerah yang memiliki karakteristik penduduk yang unik dan khas, di mana tingkat pemberdayaan dan kegotongroyongan masyarakatnya relatif baik.
c. D.I.Y merupakan daerah yang memiliki pengalaman dalam menangani permasalahan kesehatan terkait dengan kegawatdaruratan akibat bencana alam dan sehari-hari.
d. D.I.Y merupakan daerah dengan banyak “pilot project” atau program percontohan dan berbagai bentuk terobosan dibidang pembangunan kesehatan.

E. Ruang Lingkup Penelitian
Melaksanakan asuhan kebidanan komunitas di wilayah binaan Dusun Kragilan Desa Bimomartani Kecamatan Ngemplak Kabupaten Sleman, DIY. Dengan target sesuai kurikulum dan pertanggung jawaban bukti dari pelaksanaan PKL mahasiswa diberi tugas untuk membuat laporan yang meliputi :


1. Individu
a. Melakukan pengkajian masalah kesehatan ibu dan anak pada minimal 10 KK sesuai dengan wilayah kerjanya masing-masing, dengan PUS (Pasangan Usia Subur) sebagai Unit Analisanya sebagai populasinya dan Wanita Usia Subur (WUS) sebagai sampelnya/respondennya.
b. Melakukan asuhan manajemen kebidanan komunitas pada KK Binaan, sebanyak 1 (satu) KK, dengan ketentuan :
1) Memenuhi kriteria sebagai keluarga rawan kesehatan atau risiko tinggi masalah kesehatan ibu dan anak.
2) Penentuan KK Binaan harus persetujuan pembimbing masing-masing.
3) Menyusun laporan Askeb Komunitas sesuai format dari institusi pendidikan.
4) Laporan dari salah satu KK Binaan tersebut merupakan dasar untuk diujikan atau responsi dengan pembimbing. Responsi dilakukan sebelum dilaksanakan seminar hasil sesuai dengan pembimbing pendidikan dan pembimbing Bapelkes masing-masing (apabila institusi menghendaki).
5) Laporan harus selesai dan ditandatangani pembimbing dusun, Puskesmas, pendidikan dan Bapelkes sebelum seminar hasil PKL.
6) Laporan dilampiri : Denah rumah, Genogram, Satuan Acara Penyuluhan Kesehatan (Penkes), daftar hadir per-kegiatan dan foto-foto.


2. Kelompok
a. Melaksanakan pertemuan dengan warga masyarakat dusun melalui forum MMD I, MMD II dan MMD III.
b. Melaksanakan pengelolaan dan analisa data dengan pendekatan metodelogi ilmiah.
c. Melakukan pemrioritasan masalah kebidanan komunitas dengan berbagai pilihan teknik prioritas masalah.
d. Melaksanakan intervensi kebidanan komunitas dengan pendekatan prespektif gender, participatory Rural Appraisals (PRA) dan pemberdayaan masyarakat dengan ketentuan.
 Pelaksanaan kegiatan di RT, RW, Dusun, misalnya kegiatan peran serta di Posyandu, BPS, Polindes, Pertolongan Persalinan, Puskesmas dan lain-lain sesuai dengan kebutuhan pada kebidanan komunitas.
e. Melakukan sosialisasi Program Dusun/Desa Siaga dan sekaligus pembentukan forum komunikasi kesehatan masyarakat dusun (panitia pembentukan dusun siaga).
f. Melaksanakan bimbingan, pendidikan dan pelatihan pada minimal 2 kader untuk mendukung SDM desa/dusun siaga menerapkan intervensi kebidanan komunitas (misal sadari, pengukuran tensi, senam ibu hamil, pijat bayi dan senam nifas)
g. Menyusun laporan kegiatan Manajemen Kebidanan Komunitas (Laporan Hasil Kegiatan PKL) tentang seluruh kegiatan selama PKL sesuai dengan kelompoknya/dusunnya.
 Dilampiri dengan : Format Pengkajian, Satuan Acara Penyuluhan (SAP) setiap kegiatan, Plan Of Action (POA), Peta atau denah wilayah Dusun, Jadwal kegiatan Dusun, Daftar hadir kegiatan Dusun, Dafar Pengorganisasian mahasiswa, foto-foto kegiatan.
h. Setiap kelompok membuat laporan hasil kegiatan PKL minimal 6 copy-an. (1 untuk kecamatan, 1 untuk Desa, 1 untuk Bapelkes Yogyakarta, 1 untuk Bapeda Provinsi, 1 untuk Pendidikan dan 1 untuk Kelompok).
i. Laporan kelompok yang sudah diseminarkan dan direvisi harus dikumpulkan ke panitia (Seksi Laporan/Ilmiah).




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Desa Siaga
1. Pengertian dan Tujuan Desa Siaga
Desa siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan untuk mencegah dan mengatasi masalah–masalah kesehatan, bencana dan kegawatdaruratan kesehatan, secara mandiri yang pada hakekatnya terdiri dari Dusun/Rw Siaga. Desa yang dimaksud di sini dapat berarti kelurahan atau nagari atau istilah-istilah lain bagi kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah, yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Desa siaga aktif adalah desa yang mempunyai poskesdes dan buka setiap hari untuk memberikan yankes dasar, surveilans penyakit berbasis masyarakat. Pelayanan penanggulangan bencana dan kegawatdaruratan pemantauan gizi serta masyarakatnya menerapkan PHBS.
Tujuan dari pengembangan Desa Siaga ini adalah untuk terwujudnya masyarakat desa yang sehat, serta peduli dan tanggap terhadap permasalahan kesehatan di wilayahnya.

2. Sasaran Pengembangan dan Kriteria Desa Siaga
Untuk mempermudah strategi intervensi, sasaran pengembangan Desa Siaga dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu :
a. Semua individu dan keluarga di desa, yang diharapkan mampu melaksanakan hidup sehat serta peduli dan tanggap permasalahan kesehatan di wilayah desanya.
b. Pihak-pihak yang mempunyai pengaruh terhadap perubahan perilaku individu dan keluarga atau dapat menciptakan iklim yang kondusif bagi perubahan perilaku tersebut, seperti tokoh masyarakat, termasuk tokoh agama, tokoh perempuan dan pemuda, kader serta petugas kesehatan.
c. Pihak-pihak yang diharapkan memberikan dukungan kebijakan, peraturan perundang-undangan, dana, tenaga, sarana dan lain-lain seperti kepala desa, camat, para pejabat terkait, swasta, para donatur dan pemandu kepentingan lainnya.

Sebuah desa telah menjadi desa siaga apabila desa tersebut telah memiliki sekurang-kurangnya sebuah Pos Kesehatan Desa (Poskesdes). Poskesdes adalah Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang dibentuk di desa dalam rangka mendekatkan atau menyediakan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat desa. Poskesdes dapat dikatakan sebagai sarana kesehatan yang merupakan pertemuan antara upaya-upaya masyarakat dan dukungan pemerintah. Pelayanannya meliputi upaya-upaya promotif, prreventif dan kuratif yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan (terutama Bidan) dengan melibatkan Kader atau tenaga sukarela lainnya.
Bidan dan kader di Poskesdes diharapkan dapat melaksanakan kegiatan-kegiatan pelayanan kesehatan bagi masyarakat desa, sekurang-kurangnya :
a. Pengamatan epidemiologi sederhana terhadap penyakit, terutama penyakit menular dan penyakit yang berpotensi menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB) dan faktor resikonya (termasuk status gizi) serta kesehatan Ibu Hamil yang beresiko.
b. Penanggulangan penyakit, terutama penyakit menular dan penyakit yang berpotensi menimbulkan KLB serta faktor-faktor resikonya (termasuk kurang gizi).
c. Kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana dan kegawatdaruratan kesehatan.
d. Pelayanan medis dasar, sesuai dengan kompetensinya.
e. Kegiatan-kegiatan lain yaitu promosi kesehatan untuk peningkatan keluarga sadar gizi dan peningkatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), penyehatan lingkungan, dan lain-lain merupakan kegiatan pengembangan.

Poskesdes juga diharapkan sebagai pusat pengembangan atau revitalisasi berbagai UKBM lain yang dibutuhkan masyarakat desa, dengan demikian Poskesdes sekaligus berperan sebagai koordinator UKBM tersebut. Poskesdes diselenggarakan oleh tenaga kesehatan (minimal seorang Bidan) dengan dibantu sekurang-kurangnya 2 orang Kader.

3. Langkah-langkah pengembangan Desa Siaga
a. Persiapan
b. Pelaksanaan
c. Pemantauan dan Evaluasi
d. Pendekatan Pengembangan Desa Siaga
1) Pengembangan Tim Petugas
2) Pengembangan Tim di Masyarakat
3) Survei Mawas Diri
4) Musyawarah Masyarakat Desa (MMD)
e. Pelaksanaan Kegiatan
1) Pemilihan Pengurus dan Kader Desa Siaga
2) Orientasi/Pelatihan Kader Desa Siaga
3) Pengembangan Poskesdes dan UKBM Lain
4) Penyelenggaraan Kegiatan Desa Siaga
f. Pembinaan dan Peningkatan

B. Konsep Penggerakan dan Pemberdayaan Masyarakat
1. Pengertian penggerakan dan pemberdayaan Masyarakat
Penggerakan dan pemberdayaan Masyarakat adalah segala upaya fasilitas yang bersifat persuasif dan tidak memerintah yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, perilaku, dan kemampuan masyarakat dalam menemukan, merencanakan dan memecahkan masalah menggunakan sumber daya atau potensi yang mereka miliki termasuk partisipasi dan dukungan tokoh-tokoh masyarakat serta LSM yang ada dan hidup di Masyarakat. Perggerakkan dan pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan akan menghasilkan kemandirian masyarakat di bidang kesehatan, dengan demikian penggerakkan dan pemberdayaan masyarakat merupakan proses, sedangkan kemandirian masyarakat di bidang kesehatan bisa diartikan sebagai kemampuan untuk dapat mengidentifikasi masalah kesehatan yang ada di lingkungannya, kemudian merencanakan dan melakukan cara pemecahanya dengan memfaatkan potensi setempat tanpa tergantung pada bantuan dari luar.
Pembinaan peran serta masyarakat adalah salah satu upaya pengembangan yang berkesinambungan dengan tetap memperhatikan penggerakkan dan pemberdayaan masyarakat melalui model persuasif dan tidak memerintah, untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, prilaku, dan mengoptimal kemampuan masyarakat dalam menemukan, merencanakan, dan memecahkan masalah. Pembinaan lokal merupakan serangkai langka yang diterapkan guna menggali, menigkatkan dan mengarah masyarakat setempat.
Penggerakan dan pemberdayaan keluarga adalah segala upaya fasilitasi yang bersifat tidak memerintah guna menigkatkan pengetahuan dan kemampuan keluarga agar mampu mengidentifikasi masalah, merencanakan dan mengambil keputusan untuk melakukan pemecahannya dengan benar, tanpa atau dengan bantuan pihak lain. Perggerakkan dan pemberdayaan keluarga di bidang kesehatan akan menghasilkan kemandirian keluarga dalam menemukan masalah kesehatan yang ada dalam keluarganya, kemudian mampu merencanakan dan mengambil keputusan untuk memecahkan masalah kesehatannya sendiri tanpa atau dengan bantuan pihak lain. Salah satu strategi yang dapat ditempuh untuk menghasilkan kemandirian di bidang kesehatan baik pada masyarakat maupun pada keluarga adalah pendekatan Komunikasi Informasi Edukasi (KIE).

2. Tujuan penggerakan dan pemberdayaan Masyarakat
a. Tujuan umum
Menigkatnya kemandirian masyarakat dan keluarga dalam bidang kesehatan sehingga masyarakat dapat memberikan tindakan dalam menigkatkan derajat kesehatannya.
b. Tujuan Khusus
1) Meningkatnya pengetahuan masyarakat dalam bidang kesehatan.
2) Meningkatnya kemampuan masyarakat dalam pemeliharaan dan peningkatkan derajat kesehatan sendiri.
3) Meningkatnya pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan oleh masyarakat.
4) Terwujudnya kelembagaan upaya kesehatan masyarakat di tingkat lapangan.

3. Prinsip-prinsip penggerakan dan pemberdayaan Masyarakat
a. Menumbuhkembangkan kemampuan masyarakat.
b. Menumbuhkan dan atau mengembangakan peran serta masyarakat dalam pembangunan kesehatan.
c. Mengembangkan semangat gotong royong dalam pembangunan kesehatan
d. Berkerja bersama masyarakat.
e. Menggalang kemitraan dengan LSM dan organiosasi kemasyarakat yang ada di masyarakat.
f. Penyerahan pengambilan keputusan kepada masyarakat.

4. Ciri-ciri penggerakan dan pemberdayaan Masyarakat.
a. Upaya yang berlandaskan pada penggerakkan dan pemberdayaan masyarakat.
b. Adanya kemampuan / kekuatan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri.
c. Kegiatan yang segalah sesuatunya diatur oleh masyarakat secara sukarela.

Yang dimaksud dengan kemampuan/kekuatan yang dimiliki oleh masyarakat dapat berupa :
1. Tokoh-tokoh masyarakat.
2. Organisasi kemasyarakat.
3. Dana masyarakat.
4. Saranan dan material yang dimiliki masyarakat.
5. Pengetahuan masyarakat.
6. Teknologi yang dimiliki masyarakat.
7. Pengambilan keputusan.






5. Strategi penggerakan & pemberdayaan Masyarakat
Dalam pemberdayaan masyarakat sebagai berikut :
a. Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan.
b. Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang telah disediakan oleh pemerintah.
c. Mengembangkan berbagai cara untuk menggali dan memfaatkan sumber daya yang dimiliki oleh masyarakat untuk pembangunan kesehatan.
d. Mengembangkan berbagai bentuk kegiatan pembangunan kesehatan yang sesuai dengan kultur budaya masyarakat setempat.
e. Mengembangkan manajemen sumber daya yang dimiliki masyarakat secara terbuka (transparan).




6. Pokok-pokok kegiatan penggerakan & pemberdayaan Masyarakat
a. Penyamaan persepsi tentang permasalahan kesehatan yang ada di masyarakat dan perencanan kegiatan untuk pemecahan masalah.
b. Pelaksanaan rencana kegiatan.
c. Pembinaan dan pengembangan.

7. Langkah-langkah penggerakan & pemberdayaan Masyarakat
Pembinaan peran serta masyarakat tingkat desa merupakan suatu rangkaian kegiatan yang berurutan, berkesinambungan dan saling terkait. Langkah-langkah penggerakan dan pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan desa siaga meliputi :
a. Pertemuan Tingkat Desa (PTD)
Pertemuan Tingkat Desa merupakan langkah awal dari kegiatan pembinaan di tingkat desa.

b. Survei Mawas Diri (SMD)
Survei Mawas Diri adalah kegiatan pengenalan, pengumpulan, dan pengkajian masalah kesehatan oleh tokoh masyarakat dan kader setempat di bawah bimbingan petugas kesehatan di desa/bidan di desa.

c. Musyawarah Masyarakat Desa (MMD)
Musyawarah Masyarakat Desa adalah pertemuan seluruh warga desa untuk membahas hasil survei mawas diri dan merencanakan penanggulangan masalah kesehatan yang diperoleh dari hasil survei mawas diri.

C. Konsep Penyakit
1. ISPA Pada Balita
ISPA merupakan penyakit penyebab kematian tertinggi balita di Indonesia. Kriteria penderita ISPA dalam penata laksanaannya adalah balita dengan gejala batuk dan atau kesukaran bernafas. Pola tatalaksana penderita ini terdiri dari 4 bagian, yaitu :
a. Pemeriksaan
b. Penentuan ada tidaknya tanda bahaya
c. Penentuan klasifikasi penyakit
d. Pengobatan

Dalam menentukan klasifikasi penyakit dibedakan atas dua kelompok, yaitu kelompok untuk umur 2 bulan sampai kurang 5 tahun dan kelompok untuk umur kurang 2 bulan :
a. Untuk kelompok umur 2 bulan sampai kurang 5 tahun klasifikasi di bagi atas :
• Pneumonia berat
• Pneumonia
• Bukan pneumonia
Gambar Pneumonia berat


b. Untuk kelompok umur kurang 2 bulan klasifikasi dibagi atas :
• Pneumonia berat
• Bukan pneumonia

Klasifikasi bukan pneumonia mencakup kelompok penderita balita dengan batuk yang tidak menunjukkan gejala peningkatan frekuensi nafas dan tidak menunjukkan adanya penarikan dinding dada bagian bawah ke dalam. Dengan demikian klasifikasi bukan pneumonia mencakup penyakit-penyakit ISPA lain di luar pneumonia seperti batuk pilek biasa (common cold), pharyngitis, tonsillitis.
Pola tatalaksana ISPA yang diterapkan dimaksudkan untuk tatalaksana penderita pneumonia berat, pneumonia, dan batuk pilek biasa. Hal ini berarti penyakit yang penanggulangannya dicakup oleh Program P2 ISPA adalah pneumonia berat, pneumonia, dan batuk pilek biasa, sedangkan penyakit ISPA lain seperti pharyngitis, tonsillitis, dan otitis belum dicakup oleh program ini. Menurut tingkatannya pneumonia di klasifikasikan sebagai berikut :
a. Pneumonia berat
Berdasarkan pada adanya batuk atau kesukaran bernafas disertai nafas sesak atau tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam (chest indrawing) pada anak usia 2 tahun – < 5 tahun. Sementara untuk kelompok usia < 2 bulan, klasifikasi pneumonia berat ditandai dengan adanya napas cepat (fast brething), yaitu frekuensi pernapasan sebanyak 60 kali permenit atau lebih, atau adanya tarikan yang kuat pada dinding dada bagian bawah kedalam (severe chest indrawing).

b. Pneumonia
Berdasarkan pada adanya batuk dan atau kesukaran bernafas disertai adanya nafas cepat sesuai umur. Batas nafas cepat (fast brething) pada anak usia 2 bulan sampai <1 tahun adalah 50 kali atau lebih permenit sedangkan untuk anak usia 1 sampai <5 tahun adalah 40 kali atau lebih per menit atau
c. Bukan Pneumonia
Mencakup kelompok penderita balita dengan batuk yang tidak menunjukkan gejala peningkatan frekuensi nafas dan tidak menunjukkan adanya tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam. Dengan demikian klasifikasi bukan pneumonia mencakup penyakit-penyakit ISPA lain diluar pneumonia seperti batuk pilek biasa (common cold), phryngitis, tonsilitas, otitis atau penyakit ISPA non pnumonia lainnya.

Untuk tatalaksana penderita di rumah sakit atau sarana kesehatan rujukan bagi kelompok umur 2 bulan sampai < 5 tahun, dikenal pula diagnosis pneumonia sangat berat yaitu batuk atau kesukaran bernafas yang disertai adanya gejala sianosis sentral dan tidak dapat minum.


2. Diare
a. Pengertian
Menurut Haroen N, S. Suraatmaja dan P.O Asdil (1998), diare adalah defekasi encer lebih dari 3 kali sehari dengan atau tanpa darah atau lendir dalam tinja.
Sedangkan menurut C.L Betz & L.A Sowden (1996) diare merupakan suatu keadaan terjadinya inflamasi mukosa lambung atau usus.
Menurut Suradi & Rita (2001), diare diartikan sebagai suatu keadaan dimana terjadinya kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang terjadi karena frekuensi buang air besar satu kali atau lebih dengan bentuk encer atau cair.
Jadi diare dapat diartikan suatu kondisi, buang air besar yang tidak normal yaitu lebih dari 3 kali sehari dengan konsistensi tinja yang encer dapat disertai atau tanpa disertai darah atau lendir sebagai akibat dari terjadinya proses inflamasi pada lambung atau usus.

b. Penyebab
Menurut Haroen N.S, Suraatmaja dan P.O Asnil (1998), ditinjau dari sudut patofisiologi, penyebab diare akut dapat dibagi dalam dua golongan yaitu:
1. Diare sekresi (secretory diarrhoe), disebabkan oleh:
a) Infeksi virus, kuman-kuman patogen dan apatogen seperti shigella, salmonela, E. Coli, golongan vibrio, B. Cereus, clostridium perfarings, stapylococus aureus, comperastaltik usus halus yang disebabkan bahan-bahan kimia makanan (misalnya keracunan makanan, makanan yang pedas, terlalau asam), gangguan psikis (ketakutan, gugup), gangguan saraf, hawa dingin, alergi dan sebagainya.
b) Defisiensi imum terutama SIGA (secretory imonol bulin A) yang mengakibatkan terjadinya berlipat gandanya bakteri/flata usus dan jamur terutama canalida.

2. Diare osmotik (osmotik diarrhoea) disebabkan oleh:
a) malabsorpsi makanan: karbohidrat, lemak (LCT), protein, vitamin dan mineral.
b) Kurang kalori protein.
c) Bayi berat badan lahir rendah dan bayi baru lahir.

Sedangkan menurut Ngastiyah (1997), penyebab diare dapat dibagi dalam beberapa faktor yaitu:
1. Faktor infeksi
a) Infeksi enteral
Merupakan penyebab utama diare pada anak, yang meliputi: infeksi bakteri, infeksi virus (enteovirus, polimyelitis, virus echo coxsackie). Adeno virus, rota virus, astrovirus, dll) dan infeksi parasit : cacing (ascaris, trichuris, oxyuris, strongxloides) protozoa (entamoeba histolytica, giardia lamblia, trichomonas homunis) jamur (canida albicous).
b) Infeksi parenteral ialah infeksi diluar alat pencernaan makanan seperti otitis media akut (OMA) tonsilitis/tonsilofaringits, bronkopeneumonia, ensefalitis dan sebagainya. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak berumur dibawah dua (2) tahun.
2. Faktor malaborsi
Malaborsi karbohidrat, lemak dan protein.
3. Faktor makanan
4. Faktor psikologis
c. Patofisiologi
Mekanisme dasar yang menyebabkan diare ialah yang pertama gangguan osmotik, akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi, sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus, isi rongga usus yang berlebihan ini akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare.
Kedua akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekali air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya diare timbul karena terdapat peningkatan isi rongga usus.
Ketiga gangguan motalitas usus, terjadinya hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri timbul berlebihan yang selanjutnya dapat menimbulkan diare pula.
Selain itu diare juga dapat terjadi, akibat masuknya mikroorganisme hidup ke dalam usus setelah berhasil melewati rintangan asam lambung, mikroorganisme tersebut berkembang biak, kemudian mengeluarkan toksin dan akibat toksin tersebut terjadi hipersekresi yang selanjutnya akan menimbulkan diare.
Sedangkan akibat dari diare akan terjadi beberapa hal sebagai berikut:
1. Kehilangan air (dehidrasi)
Dehidrasi terjadi karena kehilangan air (output) lebih banyak dari pemasukan (input), merupakan penyebab terjadinya kematian pada diare.
2. Gangguan keseimbangan asam basa (metabik asidosis)
Hal ini terjadi karena kehilangan Na-bicarbonat bersama tinja. Metabolisme lemak tidak sempurna sehingga benda kotor tertimbun dalam tubuh, terjadinya penimbunan asam laktat karena adanya anorexia jaringan. Produk metabolisme yang bersifat asam meningkat karena tidak dapat dikeluarkan oleh ginjal (terjadi oliguria/anuria) dan terjadinya pemindahan ion Na dari cairan ekstraseluler kedalam cairan intraseluler.
3. Hipoglekia
Hipoglikemia terjadi pada 2-3% anak yang menderita diare, lebih sering pada anak yang sebelumnya telah menderita KKP. Hal ini terjadi karena adanya gangguan penyimpanan/penyediaan glikogen dalam hati dan adanya gangguan absorbsi glukosa.Gejala hipoglikemia akan muncul jika kadar glukosa darah menurun hingga 40 mg% pada bayi dan 50% pada anak-anak.
4. Gangguan Gizi
Terjadinya penurunan berat badan dalam waktu singkat, hal ini disebabkan oleh:
- Makanan sering dihentikan oleh orang tua karena takut diare atau muntah yang bertambah hebat.
- Walaupun susu diteruskan, sering diberikan dengan pengeluaran dan susu yang encer ini diberikan terlalu lama.
- Makanan yang diberikan sering tidak dapat dicerna dan diabsorbsi dengan baik karena adanya hiperperistaltik.
5. Gangguan Sirkulasi
Sebagai akibat diare dapat terjadi renjatan (shock) hipovolemik, akibatnya perfusi jaringan berkurang dan terjadi hipoksia, asidosis bertambah berat, dapat mengakibatkan perdarahan otak, kesadaran menurun dan bila tidak segera diatasi klien akan meninggal.

d. Manifestasi Klinis Diare
1. Mula-mula anak/bayi cengeng gelisah, suhu tubuh mungkin meningkat, nafsu makan berkurang.
2. Sering buang air besar dengan konsistensi tinja cair atau encer, kadang disertai wial dan wiata.
3. Warna tinja berubah menjadi kehijau-hijauan karena bercampur empedu.
4. Anus dan sekitarnya lecet karena seringnya difekasi dan tinja menjadi lebih asam akibat banyaknya asam laktat.
5. Terdapat tanda dan gejala dehidrasi, turgor kulit jelas (elistitas kulit menurun), ubun-ubun dan mata cekung membran mukosa kering dan disertai penurunan berat badan.
6. Perubahan tanda-tanda vital, nadi dan respirasi cepat tekan darah turun, denyut jantung cepat, pasien sangat lemas, kesadaran menurun (apatis, samnolen, sopora komatus) sebagai akibat hipovokanik.
7. Diuresis berkurang (oliguria sampai anuria).
8. Bila terjadi asidosis metabolik klien akan tampak pucat dan pernafasan cepat dan dalam. (Kusmaul).

e. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan tinja
a) Makroskopis dan mikroskopis
b) PH dan kadar gula dalam tinja
c) Bila perlu diadakan uji bakteri
2. Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah, dengan menentukan PH dan cadangan alkali dan analisa gas darah.
3. Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal.
4. Pemeriksaan elektrolit terutama kadar Na, K, Kalsium dan Posfat.

f. Komplikasi
1. Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik atau hipertonik).
2. Renjatan hipovolemik.
3. Hipokalemia (dengan gejala mekorismus, hiptoni otot, lemah, bradikardi, perubahan pada elektro kardiagram).
4. Hipoglikemia.
5. Introleransi laktosa sekunder, sebagai akibat defisiensi enzim laktase karena kerusakan vili mukosa, usus halus.
6. Kejang terutama pada dehidrasi hipertonik.

Malnutrisi energi, protein, karena selain diare dan muntah, penderita juga mengalami kelaparan.

g. Penyebab Diare (Pathways)

h. Penatalaksanaan
1. Medis
Dasar pengobatan diare adalah:
a. Pemberian cairan, jenis cairan, cara memberikan cairan, jumlah pemberiannya.
1) Cairan per oral
Pada klien dengan dehidrasi ringan dan sedang diberikan peroral berupa cairan yang bersifat NaCl dan NaHCO3 dan glukosa. Untuk diare akut dan kolera pada anak diatas 6 bulan kadar Natrium 90 mEg/l. Pada anak dibawah umur 6 bulan dengan dehidrasi ringan-sedang kadar natrium 50-60 mEg/l. Formula lengkap disebut oralit, sedangkan larutan gula garam dan tajin disebut formula yang tidak lengkap karena banyak mengandung NaCl dan sukrosa.
2) Cairan parentral
Diberikan pada klien yang mengalami dehidrasi berat, dengan rincian sebagai berikut:
• Untuk anak umur 1 bl-2 tahun berat badan 3-10 kg
o 1 jam pertama : 40 ml/kgBB/menit= 3 tts/kgBB/mnt (infus set berukuran 1 ml=15 tts atau 13 tts/kgBB/menit (set infus 1 ml=20 tetes).
o 7 jam berikutnya : 12 ml/kgBB/menit= 3 tts/kgBB/mnt (infusset berukuran 1 ml=15 tts atau 4 tts/kgBB/menit (set infus 1 ml=20 tetes).
o 16 jam berikutnya : 125 ml/kgBB/ oralit
• Untuk anak lebih dari 2-5 tahun dengan berat badan 10-15 kg
o 1 jam pertama : 30 ml/kgBB/jam atau 8 tts/kgBB/mnt (1 ml=15 tts atau 10 tts/kgBB/menit (1 ml=20 tetes).
• Untuk anak lebih dari 5-10 tahun dengan berat badan 15-25 kg
o 1 jam pertama : 20 ml/kgBB/jam atau 5 tts/kgBB/mnt (1 ml=15 tts atau 7 tts/kgBB/menit (1 ml=20 tetes).
o 7 jam berikut : 10 ml/kgBB/jam atau 2,5 tts/kgBB/mnt (1 ml=15 tts atau 3 tts/kgBB/menit (1 ml=20 tetes).
o 16 jam berikut : 105 ml/kgBB oralit per oral.
• Untuk bayi baru lahir dengan berat badan 2-3 kg
o Kebutuhan cairan: 125 ml + 100 ml + 25 ml = 250 ml/kg/BB/24 jam, jenis cairan 4:1 (4 bagian glukosa 5% + 1 bagian NaHCO3 1½ %. Kecepatan : 4 jam pertama : 25 ml/kgBB/jam atau 6 tts/kgBB/menit (1 ml = 15 tts) 8 tts/kg/BB/mt (1mt=20 tts).
• Untuk bayi berat badan lahir rendah
o Kebutuhan cairan: 250 ml/kg/BB/24 jam, jenis cairan 4:1 (4 bagian glukosa 10% + 1 bagian NaHCO3 1½ %).
b. Pengobatan dietetik
Untuk anak dibawah 1 tahun dan anak diatas 1 tahun dengan berat badan kurang dari 7 kg, jenis makanan:
• Susu (ASI, susu formula yang mengandung laktosa rendah dan lemak tak jenuh
• Makanan setengah padat (bubur atau makanan padat (nasi tim)
• Susu khusus yang disesuaikan dengan kelainan yang ditemukan misalnya susu yang tidak mengandung laktosa dan asam lemak yang berantai sedang atau tak jenuh.
c. Obat-obatan
Prinsip pengobatan menggantikan cairan yang hilang dengan cairan yang mengandung elektrolit dan glukosa atau karbohidrat lain.
2. Keperawatan
Masalah klien diare yang perlu diperhatikan ialah resiko terjadinya gangguan sirkulasi darah, kebutuhan nutrisi, resiko komplikasi, gangguan rasa aman dan nyaman, kurangnya pengetahuan orang tua mengenai proses penyakit.
Mengingat diare sebagian besar menular, maka perlu dilakukan penataan lingkungan sehingga tidak terjadi penularan pada klien lain.
a. Data fokus
1) Hidrasi
• Turgor kulit
• Membran mukosa
• Asupan dan haluaran
2) Abdomen
• Nyeri
• Kekauan
• Bising usus
• Muntah-jumlah, frekuensi dan karakteristik
• Feses-jumlah, frekuensi, dan karakteristik
• Kram
• Tenesmus
b. Diagnosa keperawatan
1) Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan ketidakseimbangan antara intake dan out put.
2) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kontaminasi usus dengan mikroorganisme.
3) Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan iritasi yang disebabkan oleh peningkatan frekuensi BAB.
4) Cemas berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua, tidak mengenal lingkungan, prosedur yang dilaksanakan.
5) Kecemasan keluarga berhubungan dengan krisis situasi atau kurangnya pengetahuan.
c. Intervensi
1) Tingkatkan dan pantau keseimbangan cairan dan elektrolit
• Pantau cairan IV
• Kaji asupan dan keluaran
• Kaji status hidrasi
• Pantau berat badan harian
• Pantau kemampuan anak untuk rehidrasi
• Melalui mulut
2) Cegah iritabilitas saluran gastro intestinal lebih lanjut
• Kaji kemampuan anak untuk mengkonsumsi melalui mulut (misalnya: pertama diberi cairan rehidrasi oral, kemudian meningkat ke makanan biasa yang mudah dicerna seperti: pisang, nasi, roti atau ASI.
• Hindari memberikan susu produk.
• Konsultasikan dengan ahli gizi tentang pemilihan makanan.
3) Cegah iritasi dan kerusakan kulit
• Ganti popok dengan sering, kaji kondisi kulit setiap saat.
• Basuh perineum dengan sabun ringan dan air dan paparkan terhadap udara.
• Berikan salep pelumas pada rektum dan perineum (feses yang bersifat asam akan mengiritasi kulit).
4) Ikuti tindakan pencegahan umum atau enterik untuk mencegah penularan infeksi (merujuk pada kebijakan dan prosedur institusi).
5) Penuhi kebutuhan perkembangan anak selama hospitalisasi.
• Sediakan mainan sesuai usia.
• Masukan rutinitas di rumah selama hospitalisasi.
• Dorong pengungkapan perasaan dengan cara-cara yang sesuai usia.
6) Berikan dukungan emosional keluarga.
• Dorong untuk mengekspresikan kekhawatirannya.
• Rujuk layanan sosial bila perlu.
• Beri kenyamanan fisik dan psikologis.
7) Rencana pemulangan.
• Ajarkan orang tua dan anak tentang higiene personal dan lingkungan.
• Kuatkan informasi tentang diet.
• Beri informasi tentang tanda-tanda dehidrasi pada orang tua.
• Ajarkan orang tua tentang perjanjian pemeriksaan ulang.
BAB III
METODELOGI PKL

A. Jenis dan rancangan Penelitian
PKL di dusun dilaksanakan dengan metode survei, yaitu di mana hanya sebagian populasi yang dijadikan sample, informasi diperoleh melalui permintaan keterangan-keterangan kepada pihak yang memberikan keterangan atau jawaban ( responden ). Atas serangkaian pertanyaan yang tersusun dalam suatu daftar.
Hasil survei sebagian tergantung pada kerjasama dan kecakapan responden sebagai faktor yang dapat mempengaruhi proses survei, sehingga besar kemungkinan akan kemasukan kesalahan – kesalahan, tapi dengan metode survei dapat diperoleh fakta- fakta yang tidak bisa diamati, keterangan pada masa lalu yang perlu dicatat, bahkan opini dan motif yang mungkin sangat penting bagi pemecahan masalah. Sebab itu metode ini paling banyak dipakai dalam riset sosial.

B. Populasi penelitian
Populasi penelitian adalah seluruh warga atau KK dusun Kragilan, desa Bimomartani, kecamatan Ngemplak dengan sampel yang diambil adalah 1 mahasiswa mendata minimal 10 KK. Sampel diambil secara prorporsional sesuai dengan jumlah KK tiap Rt dan Rw di Dusun. Artinya jika jumlah KK di Rt atau Rw tersebut lebih banyak dibandingkan Rt atau Rw tersebut lebih banyak. Sampel adalah pasangan usia subur dengan usia kurang dari 49 tahun.

C. Sample penelitian
Sample yang di ambil yaitu “purposive sampling“ atau sample yang bertujuan untuk membina keluarga tersebut menjadi awal dari pembentukan mastarakat yang sehat, samplenya adalah responden yang terpilih sesuai dengan kreteria, yaitu yang berkaitan dengan program kesehatan ibu dan anak yang menjadi prioritas masalah yang telah ditemui selama pendataan.

D. Lokasi penelitian
Lokasi yang diambil adalah Desa Bimomartani Kecamatan Ngemplak, alasan atau dasar penelitian lokasi yaitu bersumber dari :
1. Usulan dari kepala desa
2. Pertimbangan Kepala puskesmas Induk
3. Pertimbangan status kesehatan masyarakat
4. Pertimbangan sumber daya masyarakat

E. Cara pengumpulan data
Cara pengumpulan data yang dilakukan ada 2 cara, yaitu :
1. Data primer
Data diperoleh dari sumbernya, yang d amati dan dicatat untuk pertama kalinya. Dalam hal ini data primer adalah jawaban yang diberikan oleh pasangan usia subur yang didata oleh para mahasiswi dengan mengunakan kuisioner yang telah disediakan. Para mahasiswi mendatangi langsung ke rumah responden.
2. Data sekunder
Data yang bukan diusahakan sendiri pengumpulanya oleh mahasiswa. Dalam hal ini mahasiswa mengambil data dari kepala dusun atau dukuh, balai desa dan puskesmas, contoh data sekunder adalah tentang demografi dusun.

F. Instrumen Pengumpulan data
Instrument pengambilan untuk pengumpulan data primer adalah pertanyaan tertutup yaitu responden dapat memilih satu atau mungkin lebih dari satu jawaban yang tersedia. Instrument pengumpulan data sekunder yang digunakan yaitu kuesioner, instrument survey lainnya yaitu tensi, timbangan dan thermometer.

G. Analisa data
Analisa data meliputi :
1. Analisa identitas responden
2. Analisa deskriptif kuantitatif ( tabel/grafik distribusi frekuensi ) dan analisa proses asuhan kebidanan. Bila memungkinkan analisis uji ”cross tabel” (tabel silang) antara tingkat pendidikan KK dengan pengetahuan tentang pola perilaku sehat sehari-hari atau tabel silang antara pekerjaan atau sanitasi keadaan rumah dan lain-lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar